MENURUT PERJANJIAN BARU
Dalam keempat injil tidak ditemukan ajaran Yesus tentang pendidikan. Tetapi harus diingat bahwa Yesus sendiri dididik dalam keluarga Yusuf dan Maria di Nazareth. Dari kisah masa kanak-kanak dapat disimpulkan bahwa Ia, sebagai seorang anak dari suatu keluarga, memperoleh pendidikan yang baik. Keluarga Kudus hidup di lingkungan adat Yahudi. Dan keluarga itu digambarkan sebagai keluarga yang taat dan patuh terhadap peraturan dan hukum adat Yahudi. Maka dikisahkan bahwa Yusuf dan Maria selalu pergi ke Yerusalem setiap tahun untuk merayakan Paskah.
Yesus hidup dan bertumbuh dalam sebuah keluarga di Nazareth, dalam asuhan Yusuf dan Maria. Yesus dilukiskan sebagai anak yang mengasihi dan patuh kepada orang tua-Nya. Ia tumbuh dan berkembang dalam kasih dan iman yang benar. Sebelum memulai karya publik-Nya, selama kurang lebih tiga puluh tahun, Ia hidup tersembunyi di dalam keluarga Nazareth. Selama itu Ia hidup dan dididik oleh Yusuf dan Maria, seperti anak-anak Yahudi lainnya. Ia membutuhkan waktu selama tiga puluh tahun untuk bertumbuh menjadi dewasa, sehingga siap mewartakan injil.
Para orang tua Yahudi mendidik anak-anak mereka pertama-tama di rumah. Bapa keluarga mempunyai kewajiban untuk mendidik iman anak-anaknya. Pertama-tama ia harus mengajarkan semua perintah dan hukum keagamaan. Pada usia lima tahun anak-anak dimasukkan ke sekolah dasar untuk belajar membaca Taurat (bdk. II Tim. 3:15). Sekolah dasar itu biasanya berhubungan dengan sinagoga. Anak-anak yang berusia sepuluh tahun harus belajar Mishnah atau hukum yang diajarkan secara lisan. Pada umur tiga belas tahun mereka harus mengerti seluruh isi hukum Yahwe dan melaksanakannya[1]. Dan pada usia lima belas tahun mereka harus menyempurnakan pengetahuannya. Inti dari kurikulum pendidikan di sekolah-sekolah Yahudi itu adalah pelajaran Kitab Taurat.
Kiranya Yesus juga memperoleh pendidikan yang sama seperti anak-anak Yahudi lainnya. Di dalam keluarga-Nya Ia dibimbing dan diajar tentang peraturan dan hukum keagamaan, sebelum menjadi “anak Taurat”. Sebab “anak Taurat” mempunyai kewajiban mendoakan doa shema sehari tiga kali dan selalu pergi ke Yerusalem untuk merayakan Paskah. Pada usia dua belas tahun, Yesus dipersiapkan untuk menjadi “anak Taurat” itu. Karenanya Ia diajak oleh orang tua-Nya pergi ke Yerusalem untuk merayakan Paskah. Hal ini menunjukkan bahwa Ia dididik supaya menjadi anak yang saleh, taat dan patuh kepada hukum agama. Kemungkinan besar Yesus tidak menerima pendidikan formal dari seorang guru yang termasyhur. Kiranya Ia hanya memperoleh pendidikan di sekolah sinagoga desa. Tetapi Ia dapat membaca dan memahami isi kitab Perjanjian Lama dengan sangat baik. Melalui pendidikan di dalam keluarga dan sekolah sinagoga desa itulah Yesus bertumbuh dewasa, penuh hikmat dan kasih karunia Allah (bdk. Luk. 2:40). Ia tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan pendidikan moral, intelektual, kultural, dan religius.
Diambil dari berbagai sumber.


