Ditengah era globalisasi dimana batas negara tak lagi nampak, rasa nasionalismen atau kecintaan pada tanah air sangatlah penting. Namun menurut William Tanuwijaya, CEO Tokopedia, sebuah perusahaan jual beli online yang telah menjadi pusat perhatian dunia ini nasionalismen bukan berarti memaksa seseorang untuk menggunakan produk dalam negeri. Slogan seperti itu baginya sudah basi.
“Nasionalisme bagi saya adalah bagaimana perusahaan Indonesia menciptakan produk yang bisa bersaing secara global. Sehingga pada generasi selanjutnya, handphone yang kita pakai ini tertanam aplikasi-aplikasi buatan Indonesia. Disaat itulah kita bangga sebagai orang Indonesia,” ungkapnya.
Mengawali kisah suksesnya mendirikan Tokopedia, William pernah menjadi penjaga warung internet (warnet) semasa kuliah dengan bayaran yang kecil. Bagi pemuda asal Pematangsiantar ini dari menjadi penjaga warnet inilah ia begitu banyak mendapatkan ilmu pengetahuan karena internet merupakan gudang informasi terbesar di dunia. Dari internet itu pulalah muncul sebuah gagasan untuk membuat sebuah usaha bergerak di bidang jual beli online. Meskipun idenya dalam merintis usaha jual beli online sempat direndahkan, namun William tidak pernah berhenti untuk mencoba mengetuk pintu hati orang-orang untuk mau bekerjasama dalam mewujudkannya.
“Lihat semua sejarah dalam dunia online yang ada, Google adalah bukan siapa-siapa saat mereka mulai, sudah ada Yahoo sebagai incumbent. Begitu pula halnyaFacebook, sudah ada Friendster dan MySpace,” ungkapnya. Atas kegigihan dan optimism dalam usahanya membangun perusahaan jual beli online akhirnya Tokopedia berhasil ia pasarkan pada tanggal 17 Agustus 2009 dan kini telah menjadi pusat perhatian dunia. Bagaimana tidak? Tak tanggung-tanggung pada Oktober 2014 lalu SoftBank Internet and Media, Inc. (SIMI) yang merupakan pemodal nomor satu di Jepang dan Sequoia Capital dari Amerika Serikat bersedia menyuntikkan dana dalam jumlah besar (Rp 1.2 triliun) kepada Tokopedia.
Sebagai generasi internet, William mempunyai cara sendiri untuk membuktikan nasionalismenya. Caranya adalah menarik kembali para engineer Indonesia yang berkarya di luar negeri untuk kembali ke pangkuan ibu pertiwi, membangun bangsa lewat kreatifitas di internet. Meyakinkan mereka bahwa ilmu mereka dapat dipergunakan untuk memperkaya negeri sendiri. Mari sebagai generasi penerus Indonesia kita bersama-sama memajukan Indonesia dengan terus berusaha mengembangkan seluruh potensi dalam diri tanpa meninggalkan rasa nasionalisme!
*Disadur dari berbagai sumber*


