Jika para pemimpin ingin menunjukkan kepemimpinan yang sejati dan melakukan sesuatu yang sungguh berbeda, mereka harus belajar dari tokoh kontroversial yang satu ini, dan bahkan menghadirkan cara kepemimpinan Dia. Dalam tradisi Kristiani, Dia disebut sebagai Sang Mesias, Sang Pembebas dan Penyelamat Dunia, Dia adalah Kristus Yesus atau Nabi Isa Almasih dalam dunia Islam. Kristus Yesus secara terang-terangan menyatakan diri sebagai tokoh penyelamat dunia, namun nyatanya dunia tidak dengan mudah menerima kehadiran-Nya. Kristus Yesus dengan bahasa perumpamaan menyatakan misi dan visinya. Bahasa perumpamaan digunakan oleh Yesus agar setiap pribadi manusia mampu merasakan keselamatan yang ditawarkan kepadanya.
Kehadiran Yesus bukan untuk membebaskan manusia dari penderitaan tetapi untuk memberikan hidup yang melimpah kepada mereka yang mau menerimanya artinya bahwa Yesus memiliki misi bahwa Ia datang untuk menyampaikan kabar tentang pembebasan dan melayani mereka yang membutuhkan. Yesus dalam setiap perbuatan/tindakannya tidak pernah membedakan latar belakang orang yang hendak ditolong-Nya, bahkan orang kusta yang dianggap berdosa oleh masyarakat sekalipun. Yesus memiliki visi tentang Kerajaan Allah yang sangat terkenal yaitu Sabda Bahagia (Khotbah di Bukit).
Pemimpin yang memberdayakan memimpikan masa depan ideal yang memberi arah pada organisasi mereka. Mereka mengartikulasikan dan mendapat dukungan untuk mencapai visi mereka hingga meresap ke seluruh anggota organisasi. Yesus mengajar para murid-Nya untuk menjadi pemimpin yang memiliki misi dan komitmen. Pemimpin yang memberdayakan adalah pemimpin yang menolak kemapanan, membangun arah baru dan bergerak dinamis. Yesus mengajarkan kepada para murid-Nya untuk menjadi pemimpin yang memiliki mimpi dan nilai yaitu: cinta, kesatuan, pelayanan, memberi, iman, sukacita, doa dan kesaksian tanpa nilai-nilai tersebut mustahil mampu mejadi pemimpin yang memberdayakan. Selain nilai-nilai tersebut Yesus juga menanamkan karakter yang menjadi dasar kepemimpinan Yesus yaitu: rendah hati, teguh hati dan bijak, hubungan mesra dengan yang ilahi dan berbeda (berani menjadi transeter atau bahkan kontroversial).
Yesus Kristus sejak awal mula dalam mengajarkan kepemimpinan kepada para murid-Nya dengan keteladanan, baik melalui sabda maupun perbuatan-Nya. Gaya kepemimpinan Yesus adalah unik dan spektakuler. Ia menunjukkan kepemimpinan ketika, menyembuhkan orang kusta, Ia sangat peduli dan tanggap terhadap orang yang membutuhkan. Yesus juga mengusir para pedagang dan membersihkan rumah ibadat, ia menentang institusi, atau saat ia berkunjung ke rumah Zakeus pemungut cukai, Ia membuka pintu dialog dan menghampiri orang yang dikecam masyarakat, bahkan dengan keberaniannya ia rela tergantung di kayu salib. Ia konsisten mengejar visi dan misinya sampai rela mengorbankan hidupnya, kenyataan ini hanya sebagian kecil dari tindakan besar Yesus, yang mungkin saja untuk saat ini menjadi hal yang mustahil untuk dilakukan oleh para pemimpin.
Kepemimpinan sebagai pelayanan menjadi prioritas Yesus, “barangsiapa ingin menjadi besar diantara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu; dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka diantara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani”inilah kata-kata Yesus ketika Ia mengajarkan kepemimpinan dan teori ini Ia tunjukkan saat ia membasuh kaki para muridnya. Kerendahan hati merupakan kualitas utama dari karakter pemimpin sejati, Kepemimpinan sebagai pelayanan hendaknya dilakukan dengan penuh belas kasih, penuh bela rasa seperti dalam perumpamaan “Orang Samaria yang Murah Hati” perumpamaan itu melukiskan perhatian, kepedulian dan pelayanan penuh belas kasih. Gaya kepemimpinan Yesus memberikan gambaran yang sungguh menarik dan senantiasa diulang-ulang (penting) dalam Perjanjian Baru. Gaya kepemimpinan Yesus yang ditawarkan adalah sebagai gembala (memiliki kepedulian, keberanian dan tuntunan), sebagai pelayan ( memberikan pelayanan, dukungan dan pemberdayaan) dan sebagai pengurus (dapat dipercaya dan bertanggungjawab). Sebagai pemimpin sejati di dalam institusi pemerintahan, bisnis, keagamaan harus melihat kerjanya sebagai karya pelayanan. Apa yang Anda kerjakan harus didasarkan pada siapa diri Anda sesungguhnya; gembala, pelayan, pengurus yang mengabdi kepada Allah (manusia adalah citra Allah). Dalam hidup dan pelayanan kepemimpinan kita, kita harus memperlakukan orang lain dengan rasa hormat, keadilan, kejujuran, dan cinta. Dengan demikian tindakan kepemimpinan kita akan mewujudkan cinta, keadilan dan kepedulian Allah kepada dunia. Kita bukan hanya sebagai saksi keselamatan dunia tetapi kita adalah yesus-yesus kecil bagi dunia disekitar kita.


