Santo Paulus, Rasul Gereja Perdana menegaskan bahwa dalam kuasa Roh, kita dipanggil untuk menjadi serupa dengan Wajah Kristus (2 Kor 3 : 18). Sehubungan dengan ini, mendiang Paus Yohanes Paulus II mensinyalirkan bahwa misi kita adalah memuliakan Wajah Kristus dalam wajah manusia penuh derita (MMB No. dan TMA No. 7). Puasa adalah jalan, saat penuh rahmat bagi kita untuk menjadi serupa dengan Wajah Kristus. Pada kesempatan ini, saya ingin mengemukakan Sapta Paradigma Prapaskah atau Tujuh Jalan Puasa untuk dapat bertumbuh-kembang menjadi serupa dengan Wajah Kristus.
1. Jalan Mistik - Waktu untuk berdoa
Masa Puasa merupakan waktu untuk bersatu dengan kesengsaraan Kristus dalam doa dan keheningan. Berpuasa berarti berdoa dengan penuh kerendahan hati, merebahkan jiwa dihadapan Allah, menyatakan sikap ketergantungan pada Allah. Dalam doa yang khusuk itu, kita berjumpa dengan Allah. Puasa Yesus di Padang Gurun adalah suatu tindakan penyerahan diri yang penuh pengharapan kepada Allah Bapa, sebelum Ia memulai misi-Nya. Jalan mistik berarti kita dengan iman yang penuh antusias bersatu hati dengan Kristus yang menderita dan penuh cinta memandang Wajah Kristus dalam wajah sesama yang miskin, tersingkir, tertindas, terabaikan, yang mengalami krisis identitas dan panggilannya.
Puasa kita pada jalan mistik ini mengajak kita untuk lebih tekun dan setia meluangkan waktu untuk berdoa secara pribadi dan bersama-sama. Kita menjiwai umat bahwa Allah tidak memihak pada mereka yang mengabaikan keadilan melainkan memperhatikan mereka yang menderita dan miskin karena ketidakadilan. Kita mengajak mereka untuk berdoa mohon keadilan dan perdamaian di dunia.
Pada saat ini di mana kita merasa seakan-akan Allah bungkam terhadap kesulitan kita, kita memasrahkan diri kepada Allah dan berdoa dengan penuh iman: "Allah-ku, Allahku mengapa Engkau meninggalkan daku" (Mat 27:46). Dalam kesatuan hati dengan Kristus yang menderita, kita menyerahkan seluruh hidup dan perjuangan kita sepenuhnya kepada Bapa Sorgawi : "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu, kuserahkan nyawa-Ku (Luk 23 : 46). Doa Yesus menjadi doa kita !
2. Jalan Kenosis - Waktu mengosongkan diri
Unsur inti dari semangat berdoa adalah hasrat untuk mengosongkan diri supaya kita dapat dipenuhi oleh Roh Allah sebagaimana Yesus berpuasa di Padang Gurun. Semangat kenosis atau pengosongan diri dapat lebih dari pada sekedar mengurangkan makanan dan minuman. Kita perlu menyangkal diri lebih lagi dengan menanggalkan keakuan kita, rencana dan pikiran pribadi, membatasi kesenangan dan agenda kegiatan harian kita untuk memberi kesempatan Allah mengisi jadwal kita.
3. Jalan Metanoia - Waktu untuk bertobat
Dewasa ini kita menghadapi pelbagai masalah yang sungguh menantang iman kita seperti kemiskinan dan ketakberdayaan, perpecahan dan konflik antar suku - ras - agama-budaya, pelecehan nilai-nilai hidup, seksisme, pelbagai bentuk kekerasan dan ketidakadilan. Itu semua merupakan ungkapan terang-terangan keberdosaan manusia. Kita, orang-orang kristiani, para imam, religius dan awam, dipanggil untuk membangun tata dunia baru yang bebas dari dosa, yakni Kerajaan cinta dan damai sejahtera.
Pada masa puasa ini, kita diundang untuk membiarkan diri kita diubah oleh Roh Kudus menjadi manusia baru serupa dengan Wajah Kristus. Kesetiaan kepada bimbingan Roh Kudus berarti pula kita harus membiarkan Roh Kudus mengubah perilaku dan sikap hidup kita sesuai dengan perilaku dan sikap hidup Yesus yang tahu mengampuni dan berbelarasa. Bertobat itu harus mulai dari diri sendiri. Romo Anthony de Mello, SJ menyadarkan iman kita : "Setiap orang berpikir mau mengubah umat manusia. Hampir tidak seorangpun berpikir bagaimana mengubah dirinya sendiri". (Burung Berkicau, hlm. 110).
Pertobatan sejati menuntut perubahan hati. Nabi Yoel berpesan pada awal masa puasa ini : "Koyaklah hatimu, dan janganlah pakaianmu. Berbaliklah kepada Tuhan"(Yoel 2 : 12). Tobat sejati menuntut kita untuk menanggalkan Diri Palsu/Diri Lama kita yang terselimut topeng-topengan dan mengenakan Diri Sejati/Diri Baru yang telah diubah oleh Roh Kudus menjadi serupa dengan Wajah Kristus. Tobat sejati mendesak kita untuk memulihkan Wajah Kristus dalam wajah manusia penuh derita yang kita sentuhi hidupnya baik di dalam komunitas maupun di dalam lingkungan pelayanan misioner kita
4. Jalan Rekonsiliasi - Waktu untuk berdamai
Pada masa kehidupan Yesus, puasa dihargai sebagai saat untuk rekonsiliasi atau pendamaian (Im 23:26-29; Kis 27 : 9-12). Dalam terang ini, masa puasa, kita hormati sebagai masa rahmat, masa pendamaian, masa rekonsiliasi. Jalan rekonsiliasi itu dihayati sebagai prakarsa Allah melalui Yesus Kristus atas kuasa Roh Kudus sebagai Roh Rekonsliasi. Tetapi sekaligus jalan ini merupakan suatu tugas bagi setiap orang kristiani. Kristus mempercayakan berita pendamaian itu kepada setiap kita (2 Kor 5:19). Kita, orang-orang kristiani dipanggil untuk membawa damai. Dengan demikian Doa Damai warisan rohani St. Fransiskus Asisi harus membumi di tanah air kita yang sementara memperjuangkan kerukunan dan persaudaraan:"Tuhan, Jadikanlah aku Pembawa Damai-Mu".
Upaya perdamaian yang kita cita-citakan itu mendorong orang-orang kristiani, untuk menghayati Kaul Anti kekerasan. Prasetia bersikap tanpa kekerasan itu dikumandangkan oleh Yesus dalam Khotbah di Bukit : "Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah" (Mat 5 : 9).
5. Jalan Keadilan – Waktu menegakkan keadilan
Masa puasa adalah saat suci untuk menegakkan semangat keadilan. Yesus dalam hidup-Nya berjuang menegakkan keadilan Allah. Tuhan adalah adil dan Ia menegakkan keadilan Allah (Mazmur 11:7). Menegakkan Keadilan Allah berarti berusaha mendahulukan kaum malang, membebaskan dan menghormati hak-hak dan kepentingan-kepentingan mereka yang diperas (Mazmur 146:7) yang tertindas dan lemah ( Luk 1:52-53; 4:18-19).
Yesus setia menapaki jalan salib-Nya sampai mati di Gunung Kalvari. Sepanjang ziarah salib itu, Ia menanggung ketidakadilan yang kejam dan tanpa batas terhadap diri-Nya dan terhadap orang-orang yang tak bersalah. Ia mengubah jalan salib yang memedihkan itu menjadi 'Jalan Keadilan'.
6. Jalan Solidaritas - Waktu untuk beramal
Berpuasa adalah sarana bersolidaritas. Pada masa ini, kita diajak untuk lebih banyak berbuat baik dan melayani sesama yang sangat membutuhkan perhatian dan cinta kita. Kita dipanggil untuk membiaskan sinar kasih Wajah Allah kepada saudara-saudari kita yang patut mendapat pertolongan secara utuh, yakni saudara-saudari yang miskin secara ekonomi; Saudara-saudari yang lemah fisiknya lantaran sakit badan, cacat bawaan, dan sebagainya; Saudara-saudari yang rapuh psikis-jiwanya lantaran dihina, dianggap rendah, frustasi, stress, putus asa; Saudara-saudari yang mengalami keterasingan lantaran dikucilkan, disingkirkan, dipojokkan dalam pergaulan di tengah masyarakat; Saudara-saudari yang menderita kegersangan rohani.
Puasa pada jalan solidaritas, mengajak kita untuk meneladani Beata Muder Teresa dari Kalkuta. Ia memulihkan wajah Yesus dengan melayani orang-orang sakit dan menderita. Ia berkata "Saya menjumpai Wajah Yesus dalam wajah orang miskin dan menderita".
7. Jalan Pembebasan - Waktu untuk membebaskan
Puasa adalah suatu panggilan untuk memaklumkan rahmat pemerdekaan sejati dan membangun persekutuan kasih dengan semua orang. Yesaya mengingatkan kita (Yes 58:6-10): "Puasa yang kuhendaki ialah:
supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk,
supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk,
Supaya engkau memecah-mecahkan rotimu bagi orang yang lapar,
Supaya engkau membawa ke rumah mu orang miskin yang tak punya rumah,
Supaya engkau memberi pakaian terhadap orang yang telanjang,
Supaya engkau tidak membunyikan diri terhadap saudaramu sendiri.
Supaya engkau membawa terang bagi orang yang tinggal dalam kegelapan !
Yesus mengedapankan suatu terobosan baru dalam penghayatan puasa kita :
"Makan bersama orang berdosa, memberikan roti sebagai ungkapan belarasa dan solidaritas kita dengan orang miskin lebih penting dari pada puasa" (Mrk 2:18-22; Mat 11:16-19; Luk 7:31-35). Orang yang berada harus berpuasa dengan memberikan harta miliknya kepada orang yang miskin supaya mereka boleh menikmati lebih. Yesus tidak membantah aturan puasa, tetapi memurnikan penghayatan puasa. Berpuasa berarti membawa keselamatan bagi yang tersesat, yang lapar dan haus akan kebenaran cinta!. Sabda Yesus mempunyai makna bagi kita bila kita rela mengorban diri kita, menjadikan diri kita sebagai santapan kehidupan bagi sesama kita seperti Yesus menjadikan Tubuh - Darah-Nya sebagai santapan kehidupan kekal bagi kita.
Disadur dari RenunganPagi.blogspot


