Nabi Yesaya bernubuat, bahwa orang harus melupakan zaman orang berperang dan saling membunuh, tetapi agar memperhatikan karya Tuhan yang baru, membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara bagi umat-Nya (Yesaya 43:16-21). Rasul Paulus menyatakan bahwa hidupnya sebagai orang Farisi yang taat pada Tarurat, semuanya ia rasakan tidak berarti, seperti sampah, setelah ia memperoleh Kristus berkat kebenaran iman kepada Kristus, bukan kebenaran hukum Taurat (Filipi 3:8-14). Menurut hukum Taurat perempuan yang kedapatan berzinah harus dilempari batu sampai mati; untuk mencobai Kristus orang Farisi membawa perempuan yang tertangkap basah berzinah; Kristus menyatakan yang tidak berdosa boleh melemparkan batu yang pertama (Yoh 8:1-11).
Sejak Adan dan Eva jatuh ke dalam dosa, kuasa dosa menguasai umat manusia, sehingga tidak ada orang yang tidak pernah berdosa, kecuali Bunda Maria dan Yesus sendiri. Dengan karya penyelamatan-Nya, Kristus menjadi yang sulung bagi manusia baru, artinya apabila kita mau menjadi manusia yang benar, yang sesuai dengan kehendak Allah yang menciptakannya, kita harus menjadi seperti Kristus. Kristus, yang tidak berdosa, berkenan mengalami akibat dosa yang paling besar, yaitu penderitaan lahir batin sampai kematian di salib, sebagai teladan bagi kita manusia. Jadi bertobat itu memperbaiki kesalahan, yang didorong oleh rasa tanggungjawab; dan itu berarti orang mau menerima akibat kesalahannya dengan penuh keikhlasan, juga akibat yang paling besar untuk diperbaiki (diatasi).
Hanya menyesali, tetapi tidak memperbaikinya, itu bukan pertobatan sejati.
Sisi lain dari pertobatan ialah hubungan baru dengan sesamanya, yaitu saling membantu dan saling mencintai. Minggu Prapaska ke-5 ini mengingatkan kiita, bukan hanya bahwa Kristus adalah Juruselamat kita, tetapi juga bahwa Ia adalah teladan hidup bagi kita manusia sebagai pribadi. Kristus juga mau menunjukkan kepada kita bagaimana kita harus hidup sebagai manusia yang mau mencapai hidup kekal. Sebagai pribadi sosial kita harus saling tolong menolong dengan sesama untuk membangun diri kita sebagai manusia sebagaimana dikehendaki Allah yang menciptakan kita, yaitu menjadi manusia yang tujuannya adalah kembali kepada Allah yang mahasuci. Maka menjadi manusia sosial berarti saling menolong untuk menjadi baik dan suci, yang pantas menghadap Allah yang maha suci. Umat manusia telah berada di bawah kuasa dosa, tidak ada orang yang tidak pernah tidak berbuat dosa, kecuali Kristus sendiri dan Bunda Maria, maka kita tidak dapat saling menghakimi kesalahan sesama, tetapi justru saling membantu memperbaiki diri. Itulah sebabnya jawaban Kristus atas pertanyaan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." Dan akhirnya tidak seorang pun melakukannya serta Kristus pun tidak menghukumnya, tetapi memerintahkan untuk tidak berbuat dosa lagi. Itulah wujud hubungan antar sesama manusia yang saling tolong menolong untuk menjadi orang-orang yang baik. Sikap Kristus dalam menghadapi peristiwa itu menunjukkan kebenaran iman, yang dipegang oleh rasul Paulus, sejak ia 'ditangkap' oleh cinta Kristus. Tidak ada sesuatu pun yang berarti ataupun berharga untuk hidup abadi selain Kristus. "Yang kukehendaki ialan mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati." Itulah perjuangan rasul Paulus selama hidupnya di dunia ini.
Apa yang terjadi pada Perjanjian Lama adalah lambang. Tetapi yang penting bagi kita adalah yang dilambangkan, yaitu misteri penyelamatan dalam Kristus. Hal ini telah diperhatikan oleh nabi Yesaya. "Janganlah ingat-ingat akan hal-hal yang dahulu dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala! Lihat Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan dipadang gurun dan sungai-sungai di padang belantara." 'Padang gurun' dan 'padang belantara' bagi bangsa Israel adalah gambaran kematian, keadaan yang tidak memberi harapan. Penderitaan dan kematian yang tadinya di mata manusia di dunia ini hanya berarti kebinasaan, tetapi oleh Allah dijadikan jalan yang memberikan harapan akan hidup sejati yang abadi
Sadarkah kita, bahwa wujud nyata pertobatan yang menuntun kepada iman itu salah satunya yang sangat penting ialah menerima dengan ikhlas sebagai rasa tanggungjawab, penderitaan dan kematian bersama dan dalam Kristus? Sebab itulah wujud akses yang bukan pilihan kita, melainkan pilihan Allah.


