Pendidikan di sekolah Katolik: Apakah Definisi dan Tujuannya?
Sebenarnya, definisi pendidikan di sekolah Katolik adalah sederhana, yaitu pendidikan dan pengajaran sekolah yang didasarkan oleh iman Katolik sebagaimana diajarkan oleh Gereja Katolik. Artinya, iman Katolik-lah yang mendasari segala aspek pendidikan, dari mulai guru-guru/ staf pengajar, kurikulum, lingkungan belajar, cara disiplin, peraturan-peraturan sekolah, dan hal-hal lainnya. Dengan kata lain, sekolah Katolik menjadi lingkungan yang sungguh Katolik, sehingga menjadi tempat yang kondusif bagi anak-anak untuk mengenal dan mengasihi iman Katolik, serta bertumbuh di dalamnya.
Apa yang membedakan antara pengajaran secara umum dengan pengajaran/pendidikan Katolik?
Secara umum, proses pengajaran dipahami sebagai proses penyaluran informasi dari guru kepada muridnya. Namun pendidikan Katolik tidak hanya terbatas kepada penyaluran informasi dari guru kepada murid. Pendidikan Katolik tidak hanya mencakup pengajaran dan pembekalan akal budi ataupun pemikiran seorang anak dengan informasi yang sebanyak-banyaknya. Sebab di samping membekali murid dengan ilmu pengetahuan, pendidikan Katolik juga membekali, membangun, dan membentuk iman dan spiritualitasnya. Iman dan spiritualitas ini tidak saja mencakup pengajaran agama secara teoritis, tetapi juga pembentukan watak, karakter dan moralitas tiap-tiap murid.
Untuk pendidikan spiritual inilah, kita kembali mengingat akan apa hakekat kita sebagai manusia yang diciptakan Allah. Secara sempurna, manusia diciptakan Tuhan sebagai ciptaan yang spiritual atau mahluk rohani. Inilah yang membuat kita berbeda dengan mahluk ciptaan lainnya. Tidak saja kita memiliki akal budi, perasaan, dan hati nurani; kitapun diberikan anugerah yang termulia untuk bisa menjalin hubungan yang khusus dengan Allah Sang Pencipta. Tuhan menciptakan kita manusia supaya kita bisa menjalin hubungan yang akrab denganNya. Allah memanggil kita untuk menjadi kudus, seperti para Santo dan Santa di surga. Ya, kita semua dipanggil untuk menjadi serupa seperti Kristus.
Maka, tujuan utama kita hidup di dunia ini adalah untuk hidup kudus.[1] Tuhan memberikan kepada kita anugerah untuk bisa mencari Dia, mengenal Dia lebih lanjut, menjalin hubungan denganNya melalui doa, renungan harian, sakramen, dan mencintai Dia dengan segenap akal budi, hati nurani, dan keberadaan kita di dunia. Yesus katakan di dalam hukum cinta kasih: “Kasihilah Tuhan Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.” (Mrk 12:30) Oleh karena itu, segala yang kita miliki: kepandaian, akal budi, keberadaan, hati nurani dan iman kepercayaan- segala yang ada pada kita, selayaknya kita arahkan kepada Tuhan. Semuanya itu adalah untuk digunakan sebagai sarana untuk mengenal Allah, mencintai Dia, dan mendekatkan diri kita kepada-Nya. Dengan tujuan hidup yang berpusat kepada Tuhan inilah, kita akan dikuduskan sesuai dengan gambaran dan rupa Allah, agar dapat bertemu denganNya kembali di Surga. Dengan pengertian tersebut, pendidikan menurut iman Kristiani adalah pendidikan yang tidak hanya berpusat kepada penyempurnaan akal budi manusia, tetapi juga penyempurnaan hati nurani, moralitas, karakter pribadi, dan iman kepercayaannya. Pendidikan yang seperti inilah yang menjadi tujuan sekaligus ciri khas pendidikan Katolik.
Siapa saja yang harus mengerti akan peran, tujuan ataupun misi dari sekolah Katolik ini?
Pengertian akan pentingnya pendidikan Katolik, tujuan ataupun misi utama yang mulia dari sekolah Katolik ini harus dimengerti, dihayati dan dilaksanakan oleh semua staf pengajar, kepala sekolah, pembimbing, dan semua pihak yang terlibat dalam pendidikan di sekolah tersebut.
Alangkah baiknya kalau para guru ataupun staf pengajar memiliki misi dan tujuan hidup yang sesuai dengan tujuan dan misi Gereja. Tujuan hidup untuk menjadi serupa seperti Kristus, dan para orang kudus seharusnya menjadi tujuan hidup pribadi dari semua staf pengajar. Hal ini sangatlah penting, karena guru-guru ini berperan sebagai uluran tangan Tuhan untuk mengajar, membimbing dan membentuk anak-anak didik mereka. Para guru adalah penyalur berkat Tuhan kepada murid-muridnya. Maka seorang guru berperan sebagai teladan hidup bagi anak-anak muridnya. Umumnya pikiran seorang anak sangatlah sederhana. Seringkali sulit bagi mereka untuk memahami karakter seseorang yang tidak pernah mereka lihat, seperti karakter para Santo ataupun Santa. Karenanya, pengaruh orang-orang di sekitar mereka yang mereka lihat setiap hari, yang berinteraksi dengan kehidupan mereka sehari-hari, akan mempunyai dampak yang sangat penting dalam pertumbuhan karakter mereka. Kalau guru-guru di sekolah dan orang tua mereka di rumah berusaha sedapat mungkin untuk melaksanakan ajaran Kristus, mempunyai kehidupan rohani yang dekat dengan Tuhan; bertingkah laku dan bertutur kata yang baik dan bijaksana, penuh pengertian, dan cinta kasih; maka secara otomatis anak-anak pun akan terpanggil untuk menjadi seperti mereka. Dengan cara inilah akhirnya, mereka dapat bertumbuh dalam iman dan kekudusan, seperti para orang kudus yang mengikuti teladan Kristus.
Selain dari pihak sekolah, orangtua juga perlu mengetahui peran dan tujuan pendidikan dan sekolah Katolik. Sejujurnya, peran orang tua sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak-anak mereka, tidaklah tergantikan (lih. KGK 1653). Maka, para orang tua berperan sangat penting dalam perkembangan rohani dan karakter seorang anak. Sebab sebelum anak-anak bertemu dan berinteraksi dengan orang lain, mereka mengenal orangtua mereka terlebih dulu. Oleh karena itu, secara kodrati, Tuhan memberikan orangtua kepercayaan tunggal yang begitu besar untuk menjadi uluran tangan Tuhan dalam mendidik, membina dan mengarahkan anak-anak yang dipercayakan Tuhan kepada mereka. Dengan demikian, menjadi kudus, seperti para orang kudus di Surga, sudah selayaknya juga menjadi tujuan hidup setiap orang tua. Tujuan untuk hidup kudus ini harus menjadi tujuan hidup para orang tua secara pribadi, bukan hanya menjadi tujuan ideal yang ‘di awang-awang’ oleh para orang tua secara kolektif. Sebab jika orang tua juga berjuang untuk hidup kudus, ini akan sangat berpengaruh kepada nilai-nilai yang mereka terapkan dalam keluarga, yaitu tentang apa- apa yang diperbolehkan ataupun tidak diperbolehkan di dalam rumah tangga mereka. Di sinilah penting agar proses pendidikan di sekolah melibatkan juga peran orang tua, atau tepatnya berjalan seiring dengan pendidikan dari orang tua, agar apa yang diajarkan di sekolah dilanjutkan secara konsisten di rumah, terutama yang menyangkut nilai-nilai positif sehubungan dengan pembentukan karakter anak.


