Dalam memimpin, wanita cenderung menggunakan hati. Apakah pameo klasik itu masih bisa dibenarkan hingga saat ini? Lalu, prinsip apalagi yang dimiliki wanita ketika berada dalam posisi puncak sebuah perusahaan?
Salah satu keunggulan wanita adalah cenderung memiliki kemampuan mengelola uang dengan baik. Mungkin Anda sering mendengar pendapat tersebut. Namun, itu terbukti karena banyak wanita yang saat ini menjadi pemimpin.
Di Indonesia sendiri, dalam catatan Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan, tercatat dari 46 juta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang diketahui, sekitar 60 persen pengelolanya adalah kaum wanita. Jumlah tersebut membuktikan bahwa peran wanita pengusaha sangat besar demi ketahanan ekonomi yang bisa menciptakan lapangan kerja dan mengatasi masalah kemiskinan.
Bahkan, yang menarik lagi saat menjalankan usahanya, kehati-hatian wanita pengusaha menjadi potensi besar dalam disiplin pengembalian kredit. Hingga, tercatat jika tingkat pengembalian kredit dari usahawan wanita hampir mencapai 100 persen.
SHANTI L. POESPOSOETJIPTO
Komisaris Utama Samudera Indonesia
“Belajar dan Ilmu untuk Masa Depan”
Menyadari dilahirkan sebagai wanita, mulai dari masa kecil, khususnya saat lulus SMA, Shanti L. Poesposoetjipto oleh sang Ayah selalu ditekankan untuk meraih pendidikan yang cukup.
“Setidaknya kami (beserta dua saudara perempuan lainnya), bisa berpendidikan dan menguasai suatu ilmu pengetahuan. Atau minimal meraih gelar kesarjanaan,” ucap Shanti menirukan perkataan sang Ayah, yaituSoedarpo Sastrosatomo – pemilik kelompok usaha Soedarpo Corporation yang berdiri sejak 1952. Kegemarannya akan bidang elektronika yang juga tidak terlepas dari pengaruh sang Ayah, itulah yang menjadi alasan pilihan jurusan tehnik elektro, yang sekarang lebih popular disebut informatika, spesialisasi ilmu komputer, saatmenempuh pendidikannya di Jerman. Dari kecil Shanti mengakui tumbuh menjadi sosok ‘tomboy’. ”Jadi, meskipun saya wanita, saya tetap saja dianggap laki-laki. Namun, hal-hal yang diajarkan dan diperkenalkan Ayah saya juga senang untuk saya lakukan,” ucapnya. Kebetulan, saat ia ingin menempuh pendidikannya waktu itu, jurusan ilmu komputer di Technische Universitat Munchen, Jerman Barat, baru dibuka, 1971. Shanti pun menjadi angkatan pertama jurusan yang baru dibuka tersebut.
DITUNTUT USAHA
Meski berAyahkan pemilik kelompok usaha Soedarpo Corporation, Shanti mengakui tidak pernah sama sekali dijanjikan mengenai warisan apapun. ”Saya tidak pernah ditanamkan akan sebuah janji warisan perusahaan. Jadi lebih kepada bagaimana saya bisa mempunyai bekal mandiri. Kekuatan harus ada didiri saya sendiri,” jelas Shanti.
Shanti tidak otomatis langsung duduk di posisi teratas di perusahaan Ayahnya. Pertama kali bergabung, ia malah ditempatkan pada posisi manajer pada Service Bureau Department NVPD Soedarpo Corporation, yang menjual jasa pengolahan data komputer secara terpadu kepada pihak ketiga.
Disini Shanti bekerja bersama insinyur-insinyur lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang dilatih di luar negeri dan kemudian ditugaskan membangun sebuah pusat pengolahan data komputer. Bahkan, gaji yang diterimanya pun sama dengan rekan-rekan insinyurnya yang lain.
Antara 1974-1997 itulah dirinya mempelajari segala macam tentang bisnis pelayaran di Samudera Indonesia dan membangun kariernya dalam berbagai proyek teknologi informasi. Pada 1985-1988, Shanti menduduki posisi-posisi penting, seperti koordinator administrasi dan keuangan, serta koordinator bidang usaha komputer dan telekomunikasi.
Pada posisi ini, ia memprakarsai re-engineering bisnis Soedarpo Corporation agar terfokus pada teknologi informasi dan distribusi produk farmasi. Ketika menjabat wakil direktur utama, dia berhasil menggiring PT NVPD Soedarpo Corporation menjadi sebuah perusahaan publik pada 1990.
Sepeninggal Ayahnya, sudah tiga tahun inilah dirinya meneruskan kendali perusahaan. Bersama jajaran kelompok usaha Samudera Indonesia, Soedarpo Informatika, Asuransi Bintang, Indo Marine, dan perusahaan lain yang dirintis orang tuanya bersama rekan-rekannya, dirinya dituntut untuk lebih aktif. “Dalam menjalankan bisnis, yang paling penting adalah tetap menjaga dan membangun hubungan serta kepercayaan,” ucapnya. “Untuk dapat menjamin suatu tingkat pelayanan pelanggan yang tinggi dan bertanggung jawab, Anda tidak bisa sungkan untuk melakukan integrasi menyeluruh.”
---
YULIASIANE SULISTIYAWATI
Managing Director Pazia Pillar Mercycom
“Yang Utama Adalah Perhatian dan Penghargaan”
Dunia teknologi informasi yang terus berubah dan berkembang malah menjadi tantangan Yuliasianne Sulistiyawati bersama
perusahaannya PT Pazia Pillar Mercycom untuk terus selalu menjadi yang terdepan dalam bidang distribusi produk teknologi. Karena kecerdasannya, Sianne, begitu panggilan akrabnya, menjalani pendidikan sarjanya di jurusan Manajemen Informatika, Universitas Bina Nusantara dengan berbekal beasiswa. Karena keterbatasan dana kuliah, dirinya pun terpaksa untuk kuliah sambil bekerja.
Mulai dari bekerja sebagai asisten dosen, part time di PT Widya Raharja Informartika dan 21st Century Computer dijalaninya selama kuliah. Di perusahaan pertama diakuinya dirinya belajar berdagang, dan di perusahaan kedua Sianne mendalami dunia programmer. Lebih dari 13 tahun lamanya, memulai kariernya di dunia profesional. Hingga akhirnya menempati posisi penting sebagai Marketing Manager di sebuahresearch company. Baru sekitar tahun 2004, saat menemui titik jenuh, dirinya banting stir untuk mendirikan perusahaan sendiri yang bergerak di bidang IT.
Ia mengawali bisnisnya menjadi distributor produk notebook dan LCD monitor bermerek Acer. Kemudian, baru pada tahun 2007 akhirnya Pazia menambah jalinan kerjasamanya dengan Samsung. Dibawah kepemimpinannya, Pazia terus berkembang dan mencatat kenaikan signifikan dalam penjualan produk yang didistribusikannya. “Bahkan, ditahun 2005 notebookAccer terus mengalami kenaikan setiap bulan sampai hampir 100%.” Aku Sianne. “Acer berhasil menduduki peringkat pertama untuk penjualan di Indonesia selama 4 tahun berturut-turut.”
KELUARGA DAN REKAN BISNIS
Walau sifat workaholic yang dimilikinya memang tidak bisa dilepaskan, baginya sebagai seorang wanita pengusaha, ia harus pintar untuk mengatur waktu. Menurutnya, wanita lebih mempunyai tanggung jawab yang besar bila menjadi pengusaha, yaitu sebagai pengatur rumah tangga dan pengatur perusahaan.
“Dukungan dan restu dari keluarga itu penting. Bahkan, anak saya pernah bilang, dalam hal waktu, bukan saja kualitas waktu yang mereka tuntut, namun juga kuantitas waktu. Akhir pekan adalah miliki mereka, jadi bila ingin berkegiatan harus dengan ijin mereka,” tutur Sianne sambil tersenyum.
Baginya, selain memiliki sisi feminim dan keibuan, saat memimpin wanita mempunyai kelebihan dalam memperhatikan detail dan merencanakan sesuatu. “Lebih takecare itu yang pertama, kedua tingkat stresnya itu lebih kuat, dan ketiga egonya tidak besar. Bahkan, ada pendapat yang mengatakan pria itu memimpin dengan otak, dan wanita memimpin dengan hati. Nah, disini saya berpikir harus kombinasikan keduanya,” ujar ibu dua anak ini.
Dalam memimpin perusahaan, ada tiga prinsip yang selalu dipegangnya, yaitu bagaimana bisa berbagi dengan orang lain, mencintai, dan memberi kepada orang lain. Contohnya adalah untuk tidak segan dalam memberikan penghargaan kepada pegawainya.
“Ketika saya bekerja, maksimal bonus yang diterima itu hanya 2 bulan gaji. Bahkan ada yang ketika memberi komisi itu tidak banyak-banyak. Tapi disini, kami pernah memberi bonus hampir 10 bulan gaji. Kerelaan itu yang diperlukan.
Bahkan non sales saja saya kasih komisi. Dari awal saya memang atas dasar prinsip tersebut. Karena itu kami memiliki turn over (karyawan) itu kecil sekali sejak pertama kali perusahaan berdiri. ”Tidak saja kepada internal perusahaan, kepada kliennya yang terdiri dari beberapa maindealer produk elektronik besar dan ribuan dealerdibawahnya, dirinya sangat aktif untuk menjalin hubungan yang cukup dekat. Hampir tiap tahun dirinya memberikan bonus tamasya, baik di dalam negeri hingga keluar negeri, bersama rekan-rekan bisnisnya.
DE SHOPPE PAZIA
Menjalankan bisnis dibidang IT, diakui Sianne membutuhkan proses berpikir yang cepat. Karena teknologi terus berkembang pesat, dirinya harus selalu berpikir lebih awal untuk prospek bisnis kedepan yang dijalaninya.
Ia mencontohkan saat pertamakali memasarkan produk LCD monitor dan notebook. Saat itu, kebutuhan akan dua jenis teknologi ini masih sedikit, namun dirinya berani menjalani. “Karena saya berpikir nanti kedepannya kebutuhan masyarakat akan teknologi yang stylish berkembang. Dan saat ini ternyata terbukti,” ucapnya.
Dalam membuat ide, iapun selalu ingin membuat sesuatu yang original dan unik. Untuk membangkitkan ide, biasanya saya gunakan metode toilet, disitu biasanya ketemu ide. ”Bahkan saat kerja dahulu menjadi sales manager saya sering didorong-dorong ke toilet agar ada ide,” gurau Sianne.
Kedepannya, bisnis yang dijalani pun tidak hanya terbatas sebagai distributor elektronik. Perusahaannya akan membuka ritel elektronik bernama de Shoppe Pazia yang akan didirikan di mal-mal besar di Indonesia. Alasan dirinya membuka ritel tersebut hanya di fesyen mal saja, tujuannya adalah agar tidak merusak potensi pasar elektronik yang sudah ada di pasar kecil. “Untuk tahun ini, target kami sekitar 18 outlet di seluruh Indonesia,” aku Sianne.
---
WINNY E. HASSAN
Direktur Utama Bank DKI
“Miliki Ambisi Kuat”
Kariernya di dunia perbankan nasional memang sudah tidak diragukan lagi untuk wanita kelahiran Tegal, 11 Januari 1951 ini. Bila dihitung, hampir 46 tahun dirinya telah bergelut di dunia perbankan. Jika melihat perjalanan hidupnya, tidak salah jika Winny bisa meraih posisinya saat ini.
Perjalanan kariernya di dunia perbankan dimulai pada tahun 1974 sebagai resepsionis di sebuah kantor cabang Bank Niaga di Surbaya selama dua tahun. Setelah itu, sekitar tahun 1976 dirinya dipromosikan sebagai Junior Account Manager. Sifatnya yang cukup ambisius untuk meraih kesuksesan ia tidak segan untuk belajar apa saja guna mendukung kariernya.
Winny pun dikenal sebagai pekerja keras yang ulet, tekun, dan gigih. Bahkan, hingga kini dalam bekerja dirinya mengakui masih dala kebiasaannya, yaitu hingga larut malam. Sebelum menjadi Direktur Utama Bank DKI yang disandangnya pertama kali pada 13 Januari 2006, Winny telah malang melintang menjalani karier di berbagai bank. Inilah pertamakali Bank DKI dipimpin oleh bankir dari kalangan swasta.
PERHITUNGAN RISIKO
Winny mengakui, semangat tinggi yang dimilikinya juga diturunkan dari sang Ayah. Semenjak kecil ia selalu didorong untuk menjadi pemimpin ketika menempuh perjalanan karier. “Saya sering diajak Ayah saya yang kebetulan adalah seorang administratur pabrik gula untuk ditunjukkan bagaimana jika nantinya menjadi pemimpin. Saya sering diajak ke kantor ayah saya,” tutur Winny.
Dengan latar belakang seperti itu, walau ia mengakui cenderung pemalu disaat kecil, Winny dipupuk untuk memiliki keinginan yang besar. Karena itu, bukan hanya karena keberuntungan dirinya bisa meraih posisi saat ini, namun karena kerja keras yang dilakukannya. ”Sebagai wanita kita harus berjuang 2 sampai 3 kali lebih besar dari pria. Karena selain sibuk berkarier, kita pun harus mengurus keluarga,” ujarnya.
Sebagai seorang bankir yang selalu bergelut dengan perhitungan matematis, Winny mengakui kehidupannya pun selalu penuh perhitungan. Bukan perhitungan yang mengandung konteks negatif, namun perhitungan disini dipakai untuk mengukur dan memperhitungkan segala risiko dalam usaha dalam setiap usaha yang dilakukannya.
“Bankir itu dituntut kesitu. Seperti kita harus menghimpun dana, dan bagaimana kita mengelola dana tersebut. Kita harus jelas tentang perhitungannya. Seperti setiap tutup buku kita harus balance saat tutup buku. Agar tidak ada selisih yang berarti. Namun kita tidak harus fokus kepada risiko saja, kita ampur dengan peluang-peluang yang ada. Jadi harus digabung untuk menjadi keunggulan tersendiri,” jelas Winny tentang ukurannya dalam melihat suatu peluang.
Menurutnya, manajemen risiko itu memang saat ini sangat perlu dan mengemuka. Namun, jangan akhirnya membuat seseorang sangat mempertimbangakan risiko dan tidak mau berusaha karena takut.
BPD DAN POTENSI BISNIS DAERAH
Menilai peranan bank di Indonesia kepada dunia usaha saat ini, Winny menilai masih berlangsung normatif. Saat ini menurutnya bank masih banyak berpikir hanya bagaimana mengucurkan kredit. “Namun belum banyak yang sampai tahap pendampingan, dan bagaimana mendorong seseorang untuk sukses, itu tidak dilakukan,” jelasnya.
Di jaman sebelum krisis, katanya, walaupun caranya berbeda dengan saat ini, banyak bank yang bisa menelurkan pengusaha-pengusaha. Namun saat ini tidak banyak yang melakukannya. “Mungkin saat ini yang melakukan secara penuh adalah Bank Mandiri dengan Wirausaha Mandirinya.” ”Bukan sekedar kasih kredit. Kasih kredit itu gampang, tapi bagaimana kita melakukan pendampingan selanjutnya.”
Melalui Asbanda (Asosiasi Bank Pembangunan Daerah) yang dirinya menjadi ketua umumnya, berusaha memajukan peran BPD (Bank Pembangunan Daerah) dalam dunia perbankan di Indonesia. Baginya, BPD sangat signifikan untuk memiliki peranan dalam melakukan penetrasi di tiap daerahnya masing-masing hingga ke pelosok daerah. ”Disitulah celah bisnis potensi suatu daerah dapat dikembangkan,” jelasnya.


