Lucia Retno Atmawati, atau sering disapa dengan panggilan Mam Lucie, adalah sosok wanita yang ramah dan lembut serta memiliki dedikasi tinggi terhadap dunia pendidikan. Pengabdiannya terhadap dunia pendidikan terbukti nyata dari setiap tugas tanggung jawab yang diberikan padanya, bahkan rela menghabiskan waktu lebih di tempat kerja hingga pulang larut malam dan tetap kembali bekerja dengan segar keesokan paginya, meskipun begitu tidak pernah ada keluh kesah keluar dari mulutnya. Beberapa kali mendapatkan penghargaan Stema Awards seperti Dedicated Teacher, Most Inspirational National Teacher dan Lifetime Achievement; membuat sosok wanita kelahiran 4 Agustus 1961 ini benar-benar menjadi sebuah inspirasi bagi seluruh rekan Stella Marian untuk dapat bekerja dengan sepenuh hati.
Pindah dari kota Aceh yang pada tahun 2000-an terjadi konflik perang saudara, membuat Mam Lucie dan keluarga harus mengungsi ke tempat saudaranya di daerah BSD selama 9 bulan. Karena seringnya mengantar-jemput kedua keponakannya yang saat itu bersekolah di Stella Maris School BSD Sektor XIV membuat Mam Lucie mengajukan lamaran kerja menjadi guru, namun karena tidak tersedianya lowongan pada saat itu sehingga lamaran pun harus ditolak. Setahun kemudian, melalui sebuah surat kabar nasional Ia mendapat info lowongan pekerjaan menjadi guru di sebuah sekolah swasta dan ternyata Stella Maris School BSD membuka kembali lowongan kerja sebagai guru. Mam Lucie pun diterima sebagai guru Bahasa Inggris unit SMP dan SMA di tahun 2002 di Stella Maris School BSD hingga saat ini menjabat sebagai Vice Principal (Wakil Kepala Sekolah) National Program Stella Maris School Gading Serpong.
Tidak pernah menjadi sebuah cita-cita dari seorang Lucie untuk menjadi guru dan mendedikasikan dirinya kepada dunia pendidikan. Namun karena mengikuti sebuah organisasi sosial dari salah satu perusahaan pemerintah dimana almarhum suaminya bekerja, Ia yang merupakan lulusan Sarjana Hukum Universitas Brawijaya (angkatan 1986) ini akhirnya memiliki ketertarikan terhadap dunia mengajar sehingga Ia kembali mengambil pendidikan di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. “Cita-cita saya awal itu justru ingin menjadi Ibu Rumah Tangga, karena saya terinspirasi oleh sosok ibu saya sendiri yang begitu hebat dalam mengurus rumah dan membesarkan anak-anak. Kalau di zaman dahulu kan belum ada toko roti dan sebagainya, beliau itu bisa membuat segala macam jenis masakan dan kue bahkan sampai menjahit baju. Namun seiring saya bertumbuh dan dewasa, cara pandang saya tentang kehidupan juga berbeda.” Ujar penyuka kegiatan berkebun, kerajinan tangan dan memasak ini. Meskipun tidak lagi memiliki keinginan untuk menjadi Ibu Rumah Tangga seperti ibunya, namun moral yang ditanamkan oleh ibunya diterapkan dalam kehidupan baik dalam kehidupan pribadi maupun profesionalnya yaitu melakukan segala sesuatunya harus penuh dengan kasih dan bertanggungjawab, yang akhirnya menjadi moto hidupnya. “Seperti yang Mother Teresa bilang, do small things with great heart. Itu saja yang menjadi pegangan hidup saya jadi dalam melakukan segala sesuatu sehingga saya tidak merasa terbeban, dan saya bersyukur anak-anak saya pun mengerti akan hal ini jadi kami bisa saling mendukung,” sambung ibu 2 anak ini.
“Menjadi suatu kebanggaan dapat mengajar di Stella Maris karena sekolah memberikan banyak kesempatan untuk berkembang menjadi seorang pendidik yang kreatif, tangguh dan berkualitas serta memiliki jiwa seorang pengajar yang sesuai dengan nilai-nilai yang dimiliki Stella Maris. Hal yang membuat saya merasa Stella Maris menjadi bagian saya juga adalah rasa kekeluargaan dan kehangatan yang diciptakan di lingkungan kerja. Tidak semua perusahaan dapat memberikan rasa seperti ini. Saya harap Stella Maris bisa menjadi sekolah yang semakin besar dan menjadi berkat buat banyak orang dengan terus memberikan pendidikan yang terbaik,” ujar Mam Lucie mengakhiri perbincangan.


