Kepemimpinan di Sekolah Ikut Tentukan Kualitas Pendidik
Untuk meningkatkan kualitas pendidikan tidak cukup hanya guru yang dibekali pelatiihan peningkatan kompetensi. Sekolah yang menjadi tempat guru mengajar juga harus diperbaiki, terutama segi kepemimpinan di sekolah. Perbaikan guru dan sekolah tidak dapat dipisahkan.
Guru baik atau berkualitas tidak akan bisa bekerja dengan optimal di lingkungan sekolah kurang baik. Sebaliknya, jika guru yang kurang baik mengajar di sekolah baik, guru itu dipastikan akan terpengaruh menjadi baik. “Lihat bagaimana interaksi dan hubungan antara guru dan (pengelola) sekolahnya. Saling mendukung atau tidak,” ujar pakar pendidikan Keith M Lewin, Profesor Emeritus dari International Education and Development University of Sussex, Inggris. Dia berbicara dalam Forum Kebijakan Guru yang diselenggarakan Education Sector Analytical and Capacity Development Partnership Indonesia dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).
Keith juga mengingatkan pentingnya proses pasca program pelatihan guru. Biasanya, tahapan itu yang tidak diperhatikan sehingga guru tidak mempraktikkan materi yang diperoleh di pelatihan. Dia menyarankan memberikan pelatihan kepada guru yang mampu menimbulkan kesadaran pada diri guru itu sendiri untuk melihat kekurangannya. “Jika sudah muncul kesadaran itu, guru akan berkembang sendiri. Tak perlu lagi ada pengawas dan lain-lain,” ujarnya.
PERSOALAN UTAMA
Kepala Penelitian dan Pengembangan Persatuan Guru RI Mohammad Adbuhzen menilai pelatihan peningkatan motivasi guru lebih penting dan efisien karena persoalan utama guru ada pada motivasi. Jika materi atau teori pedagogi masih dirasa perlu diberikan kepada guru, sebaiknya menitikberatkan pad acara mengajar pembelajaran aktif. “Agar bisa mengajar seperti itu, guru juga harus memiliki kemerdekaan untuk berkembang,” ujarnya. Abduhzen juga meminta pemerintah untuk menentujan terlebih dahulu sosok guru yang hendak dibentuk dan dibutuhkan Indonesia pada masa depan. Setelah itu, barulah ditentukan standar kualitas dan kompetensi yang harus dimiliki guru. “Perlu riset memetakan motivasi guru dan motivasi ini tidak bisa dilihat dari uji kompetensi guru,” kata Abduhzen.
Disadur dari Koran Harian Kompas


