mahjong ways muncul dalam sorotan perubahan platform digital masa kiniperjalanan teknologi modern menghadirkan perspektif baru mahjong waysperubahan gaya visual digital dan jejak mahjong ways yang terus berkembangmengapa mahjong ways kembali menjadi bagian dari percakapan platform interaktifcatatan media modern mengulas transformasi yang mengiringi mahjong waysarah baru ekosistem digital terlihat dari perkembangan mahjong waysdari konsep klasik menuju era digital jejak mahjong ways terus berubahmahjong ways dalam bingkai kreativitas platform dan perubahan teknologiperspektif pengguna modern membawa mahjong ways ke narasi yang berbedaperkembangan platform interaktif membuka catatan baru seputar mahjong wayskasino online masuk dalam sorotan perubahan lanskap platform modernpergeseran media digital membawa kasino online ke perspektif yang berbedacatatan platform interaktif mengungkap perubahan narasi seputar kasino onlineketika kebiasaan digital berubah kasino online ikut menjadi bahan observasiperspektif teknologi modern melihat perjalanan kasino online di era digitalarah percakapan publik mulai bergeser bersamaan dengan kemunculan kasino onlinedi tengah transformasi platform kasino online menjadi bagian dari catatan digitalfenomena baru media modern membuka sudut pandang lain terhadap kasino onlinekasino online dan dinamika platform menghadirkan bab baru dalam percakapan digitaljejak perubahan zaman memperlihatkan bagaimana kasino online masuk ke ruang diskusijejak mahjong ways terlihat dalam perubahan wajah platform digital masa kinitransformasi ekosistem modern menghadirkan babak baru bagi mahjong wayssaat teknologi berkembang perjalanan mahjong ways mengikuti arus perubahanmahjong ways dan dinamika media digital membentuk perspektif yang lebih luasruang platform interaktif membawa cerita baru seputar perjalanan mahjong waysmembaca arah perubahan digital dari sisi perkembangan mahjong wayscatatan kreativitas teknologi memperlihatkan sisi berbeda dari mahjong waysdalam perubahan ekosistem digital mahjong ways menemukan narasi yang berbedaperkembangan desain platform memberikan warna baru pada perjalanan mahjong wayssorotan era modern menggambarkan pergeseran percakapan seputar mahjong wayskabar platform digital membawa kasino online ke sorotan yang lebih beragamketika media modern berubah narasi seputar kasino online ikut bergeserkasino online dalam catatan perkembangan teknologi dan budaya platformperubahan interaksi digital membuka perspektif baru mengenai kasino onlinejejak platform modern memperlihatkan pergeseran percakapan tentang kasino onlinesorotan era digital mengulas kasino online dari sudut pandang yang berbedadari media hingga komunitas digital perjalanan kasino online terus menjadi pembahasanfenomena platform interaktif menghadirkan kasino online dalam narasi modernpergeseran arus informasi membentuk cara baru melihat kasino onlinekasino online menjadi bagian dari dinamika perubahan ekosistem digitalmahjong ways mengikuti arus perubahan dalam ekosistem media digitalketika desain platform berkembang jejak mahjong ways ikut berubahperspektif baru muncul dari perjalanan mahjong ways di era interaktifruang digital modern menampilkan sisi lain dari mahjong wayspergeseran tren teknologi membawa perjalanan mahjong ways ke babak barucatatan era platform memperlihatkan perubahan yang mengiringi mahjong waysdari visual hingga interaksi perkembangan mahjong ways menjadi sorotan barumahjong ways dalam lanskap media yang terus mengalami transformasiarah kreativitas digital membentuk perspektif berbeda seputar mahjong waysjejak platform interaktif mencatat perjalanan mahjong ways menuju era modernkasino online muncul di tengah perubahan arah platform digital moderncatatan media interaktif membawa pembahasan kasino online ke sudut yang berbedaperjalanan ekosistem digital mengungkap perubahan narasi seputar kasino onlineketika budaya platform bergeser kasino online kembali menjadi bahan pengamatanperspektif teknologi masa kini memberikan konteks baru bagi kasino onlinearus perubahan media mengiringi perkembangan kasino online di era modernfenomena platform digital membuka ruang pembahasan baru mengenai kasino onlinedi balik dinamika teknologi terlihat perubahan pandangan terhadap kasino onlineruang komunitas modern mencatat pergeseran percakapan seputar kasino onlineperubahan gaya interaksi digital menghadirkan narasi baru tentang kasino onlinemahjong ways dan pergeseran kreativitas di tengah ekosistem digitalsisi baru platform modern terlihat melalui perjalanan mahjong waysperubahan era interaktif membawa mahjong ways ke ruang pembahasan barumengamati transformasi visual yang mengiringi perkembangan mahjong waysmahjong ways dalam perjalanan media digital menuju format yang lebih moderngagasan kreatif platform membentuk perspektif baru terhadap mahjong wayscatatan perubahan teknologi menempatkan mahjong ways dalam sorotan berbedadari budaya klasik hingga platform modern jejak mahjong ways terus berkembangruang digital membaca perubahan identitas mahjong ways di era modernperkembangan media interaktif menghadirkan cerita baru dalam perjalanan mahjong wayskasino online dan perubahan karakter platform di tengah era digitalnarasi media modern membuka sudut pandang baru mengenai kasino onlineketika ekosistem interaktif berubah kasino online masuk dalam catatan perkembanganperjalanan teknologi digital mengungkap dinamika baru seputar kasino onlinekasino online terlihat dalam pergeseran budaya platform masa kiniarus informasi modern membentuk cara berbeda membahas kasino onlinefenomena digital menghadirkan konteks baru bagi perjalanan kasino onlinedi balik perubahan platform terdapat narasi baru tentang kasino onlineperspektif komunitas digital mengikuti perkembangan kasino online dari waktu ke waktuperubahan lanskap media membawa pembahasan kasino online ke arah yang berbeda
:: Education -- Stella Maris ::

Education

SMIE is contributing to nation’s education by preparing qualified young generations. Educare in Caritatem, which have meaning of Educating with Love, is a motto which held firmly by Stella Maris in its roles of education to people based on Christian value

TEACHER: Agent of Change (part 1)


05 Dec 2016

Di tengah berbagai macam kebijakan pendidikan yang memangkas kreatifitas dan profesionalitas guru, ada dua cara yang serentak mesti dilakukan oleh guru agar tetap bisa bertahan dalam kinerja profesionalnya. Pertama, bersikap kritis atas berbagai macam kebiijakan pendidikan pemerintah yang menindas otonomi dan profesionalitasnya. Kedua, bersikap kritis terhadap diri sendiri agar tidak semakin diperalat sebagai kepanjangan tangan birokrat, melainkan menemukan kembali kebebasan dan otonominya sebagai pelaku perubahan (agent of change). Ketika berbagai kritik atas kebijakan pendidikan telah mental sebab mental politik otoritarian itu lebih berkuasa dan adu kekuatan itu semakin meminggirkan guru, ada satu daya kekuatan lain yang tersisa yang bisa menjadi daya tawar kekuatan guru, yaitu, meraih kembali kebebasan dan menghayati identitas diri sebagai pelaku perubahan.

Masyarakat berubah, identitas guru juga berubah. Pepatah latin mengatakan, tempora mutantur et nos mutamur in illis (waktu berubah dan kitapun berubah karenanya). Ungkapan bijak ini berlaku bagi perjalanan hidup setiap individu, terlebih lagi bagi mereka yang menghayati panggilannya sebagai guru yang sesungguhnya adalah pelaku perubahan. Memiliki visi sebagai pelaku perubahan merupakan conditio sine qua non bagi pembaharuan dalam dunia pendidikan. Lebih dari itu, guru bisa berperanan lebih aktif dalam membangun tatanan baru masyarakat yang lebih adil dan manusiawi melalui kinerja pendidikan mereka.

Guru adalah pelaku perubahan. Itulah sebenarnya hakekat terdalam keberadaan seorang guru. Dengan kegiatannya mengajar, ia membentuk identitas keguruannya. Melalui identitas inilah ia mengukuhkan dirinya sebagai pelaku perubahan. Kegiatan mengajar yang dilakukan guru di kelas akan memberikan perubahan dalam diri siswanya yang akan berguna bagi hidupnya mengatasi batas-batas kelas. Sebagai pelaku perubahan, guru menngubah siswa menjadi lebih baik, lebih pandai, lebih memiliki ketrampilan yang berguna bagi pengembangan profesi mereka dalam masyarakat. Guru membuat siswa memahami persoalan dengan lebih jernih sehingga mampu membuat keputusan dan bertindak secara tepat dan bertanggungjawab dalam hidup mereka. Guru yang baik membuat siswa siap terjun secara aktif dalam masyarakat sehingga mampu membangun dan menciptakan tatanan masyarakat yang lebih baik dari yang sekarang ini mereka alami.

Berbagai Tarikan Kepentingan

Tantangan pertama yang mesti dihadapi guru dalam mengukuhkan identitas dirinya sebagai pelaku perubahan adalah menyadari berbagai macam tarikan kepentingan kekuasaan yang menggelayuti profesi mereka sebagai guru. Guru selalu berada dalam tegangan kelompok kepentingan yang berpotensi mengerdilkan ciri konstruktif dan liberatif yang mereka miliki. Guru bisa menjadi pelanggeng status quo atau pembangun tatanan baru. Guru mampu terlibat dalam proses pencerahan, pemberdayaan, dan partisipasi dalam masyarakat. Namun guru juga bisa terjebak pada kelompok kepentingan tertentu yang menjadikan mereka sekedar alat-alat kepentingan ideologis kelompok mapan. Yang pertama berbicara tentang fungsi liberatif guru, yang kedua fungsi konservatif.

Cara kita memandang dua fungsi guru tergantung dari bagaimana masyarakat memandang lembaga pendidikan. Pandangan konvensional mengatakan bahwa bahwa salah satu fungsi pendidikan adalah sebagai mekanisme pemerataan kesempatan belajar bagi semua. Pendidikan akan mengidentifikasi dan menyeleksi individu yang memiliki kemampuan intelektual, bakat-bakat, dan motivasi yang kuat, tidak perduli mereka berasal dari kalangan mana, entah kaya maupun miskin. Untuk itu, pengalaman mengenyam bangku pendidikan akan membekali mereka dengan kemampuan, keterampilan dan pengetahuan yang membuat mereka dapat semakin hidup secara bermartabat dalam masyarakat. Jumlah pengetahuan dan keterampilan yang mereka peroleh melalui pendidikan akan menjadi kriteria dan indikator untuk menentukan jenis pekerjaan dan penghargaan materi yang melekat dalam kepemilikan pengetahuan dan keterampilan tersebut (McNamee dan Miller, 2004, hlm. 14).

Pandangan ini menganggap bahwa lembaga pendidikan itu bersifat meritokrasi, yaitu, memberikan kesempatan bagi mereka yang kurang beruntung agar dapat bersaing dan berlomba dengan mereka yang telah mapan untuk menduduki posisi penting yang lebih bermartabat dalam masyarakat. Anak-anak keluarga miskin yang ulet, gigih dan mau belajar, akan dapat mengenyam pendidikan tinggi yang memungkinkan mereka mengalami mobilitas sosial. Tanpa ada jaminan dan persamaan kesempatan dalam mengenyam pendidikan, anak-anak orang miskin dan mereka yang secara sosial terpinggirkan tidak dapat bangkit dari keterpurukannya. Tanpa adanya akses pada pendidikan, mereka akan tetap berkubang dalam kemiskinan dan kemelaratan tanpa ada jalan terbuka untuk membebaskan diri dari situasi sosial yang meminggirkannya. Bagi mereka pendidikan menjadi salah satu sarana mobilitas sosial dalam masyarakat.

Pendidikan membantu mengangkat harkat mereka yang kurang beruntung dalam masyarakat menjadi setara dengan mereka yang memiliki previlese, entah karena status sosial maupun warisan kekayaan turun temurun yang memungkinkan anak-anak orang kaya menikmati keistimewaan dalam kehidupan sosial mereka. Dalam konteks ini, guru memiliki fungsi liberatif, yaitu, membebaskan mereka dari belenggu kemiskinan dan membuat anak-anak orang miskin mengalami mobilitas sosial dalam masyarakat.

Namun, selain pandangan bahwa pendidikan memberikan persamaan kesempatan belajar pada setiap orang yang memungkinkan terjadinya mobilitas sosial, terdapat juga pandangan lain yang lebih radikal. Alih-alih sebagai lembaga yang membebaskan, pada kenyataannya sekolah hanya melestarikan status quo dan mereproduksi struktur sosial dan ketimpangan dalam masyarakat. Sekolah memiliki fungsi konservatif, yaitu melanggengkan ketimpangan dan semakin memperlebar jurang perbedaan antara si kaya dan si miskin. Sekolah bukannya membawa si miskin pada mobilitas sosial lebih tinggi melainkan malah membuatnya terpinggir dan tersisih.

Pengikut aliran ini tidak percaya peranan sekolah sebagai lembaga yang mempromosikan persamaan dan kesempatan di mana sekolah dapat menjadi alat mobilitas sosial bagi kaum miskin. Sebaliknya, mekanisme pendidikan sesungguhnya mengotak-ngotakkan individu berdasarkan kelas sosial. Pendidikan hanya mendaur ulang (reproduction) sistem kelas dalam masyarakat. Sistem, struktur, dan kultur di sekolah tidak lain adalah cerminan dari realitas sosial di dalam masyarakat di mana yang kaya akan semakin maju, dan yang miskin akan semakin terpinggirkan. Model kurikulum, cara pengajaran dan evaluasi belajar, misalnya, lebih menguntungkan mereka yang kaya, memiliki sarana dan fasilitas yang baik serta tradisi pendidikan dalam keluarga yang kuat. Anak-anak orang kaya ini memiliki modal sosial dan kultural yang lebih dibandingkan anak-anak orang miskin yang secara faktual hidup dalam kubangan kemiskinan yang membuatnya abai terhadap pendidikan.

Dalam situasi ketimpangan ini, proses penilaian hasil belajar (evaluasi) di sekolah juga berat sebelah. Sekolah memberikan nilai-nilai yang baik pada mereka yang memiliki keistimewaan (bakat, talenta, kepandaian, kecerdasan, dll) yang umumnya telah dimiliki oleh anak-anak orang kaya. Sistem pendidikan lebih menguntungan anak-anak orang kaya daripada daripada orang miskin yang dari sononya memiliki defisit modal budaya. Anak-anak orang kaya yang lebih cerdas mampu menguasai dan menyelaraskan diri dalam sistem pendidikan yang ada. Mereka inilah yang akan mendapatkan ijasah dan sertifikat serta mampu meneruskan ke perguruan tinggi bermutu sehingga status sosial mereka tetap akan berada di kisaran atas dalam tatanan sosial masyarakat.

Sebaliknya, sekolah memberikan hukuman kepada anak-anak orang miskin yang kesulitan belajar. Tidak adanya sarana yang memadai (buku pelajaran, dll), lingkungan belajar yang kondusif untuk memperdalam ilmu, menumbuhkan disiplin, dll, membuat anak-anak orang miskin ini senantiasa terpuruk. Merekalah yang selalu menjadi langganan ketidaklulusan dan drop out dari sekolah.

Tidak jarang sekolah sudah membuat semacam penggolongan dan seleksi (tracking) sejak awal di mana anak-anak orang miskin sering diarahkan untuk mengenyam pendidikan yang dapat langsung membuat mereka bekerja, seperti, mengarahkan mereka untuk memilih jalur SMK. Pendekatan seperti ini, meski sekilas tampaknya baik, namun sesungguhnya semakin menjauhkan mereka dari akuisisi modal budaya yang lebih tinggi yang memungkinkan mereka mengalami mobilitas sosial. Anak-anak ini tetap akan terpuruk dalam lapis bawah hirarki tenaga kerja dalam dunia industri. Ketimpangan seperti ini didaurulang terus dari generasi satu ke generasi yang lain sehingga sekolah bukannya menjadi alat yang memberikan persamaan belajar sehingga setiap siswa memiliki akses pada pengetahuan universal, melainkan pendidikan semakin memperlebar jurang perbedaan dan melanggengkan ketimpangan dalam masyarakat berdasarkan kelas sosial.

Akan selalu ada tegangan antara kepentingan negara, kepentingan masyarakat (termasuk di dalamnya kepentingan bisnis dan kekuatan media), serta kepentingan individu guru dalam mewujudkan identitas dirinya sebagai pekerja budaya. Sebagai pekerja budaya, guru bisa menjadi perpanjangan tangan kultur kapital yang mempertahankan status quo, namun tidak menyentuh persoalan ketimpangan sosial dan ketidakadilan yang ada dalam masyarakat. Namun guru juga memiliki potensi sebaliknya. Mereka dapat menjadi pelaku aktif pemberdayaan siswa dan masyarakat melalui pendidikan. Dalam konteks perdebatan inilah kiranya pengembangan visi guru sebagai pelaku perubahan mesti diletakkan.