Maria Dewi Srihartiati Krisnaputri, atau yang kerap disapa dengan anak-anak muridnya dengan Ibu Maria merupakan seorang Wali Kelas 1 A di Stella Maris School BSD. Menjadi seorang guru bukanlah cita-citanya sejak awal namun kehendak orang tua lah yang membuatnya mengambil jenjang pendidikan yang akhirnya membuatnya jatuh cinta pada profesi ini.
Memulai karir di dunia pendidikan sebagai guru komputer di sebuah lembaga pendidikan selama beberapa tahun setelah menyelesaikan kuliah di Institusi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Jakarta, Maria kemudian beralih profesi menjadi sekretaris di sebuah perusahaan. Setelah 2 tahun berjalan Ia tidak menemukan adanya kecocokan dengan bekerja di bidang tersebut. “Saya merasa itu bukan tempat saya, karena saya tidak suka terlalu berlama-lama berhubungan dengan benda mati. Dan ternyata saya lebih suka mengajar, berhubungan dengan banyak orang,” ungkap ibu dari 3 anak ini. Sejak saat menemukan passion-nya sebagai guru, ia kembali mengajar di sebuah lembaga pendidikan komputer yaitu Komputer Kid. Dengan anak pertama yang mulai memasuki usia sekolah, saat itu Maria berdoa pada Tuhan bahwa ia memiliki keinginan untuk bisa mengajar di sebuah sekolah Katolik. Berkat doa dan imannya, melalui lembaga pendidikan Komputer Kid Maria dikirim menjadi guru komputer di Stella Maris School BSD. “Saya ingat sekali, saat itu saya bertemu dengan Ibu Puji dan saya mengetahui adanya lowongan guru yang terbuka, lalu saya mengajukan lamaran kerja ke Stella Maris. Puji Tuhan sekali, saya diterima menjadi guru di level TK,” kenangnya yang sudah bergabung di Stella Maris sejak tahun 2001.
Cukup lama Maria membaktikan dirinya di dunia pendidikan khususnya di Stella Maris, tidak sedikit jatuh bangun yang dirasakannya pada saat awal pertama bergabung. “Pada 2 tahun awal pertama saya bergabung sempat ada pergumulan dan pikiran untuk keluar hingga suatu ketika saya bermimpi dimana di mimpi tersebut saya menunggangi kuda putih yang liar dan sukar sekali saya kendalikan. Ia membawa saya ke gunung yang tinggi dengan banyak pepohonan indah di kanan-kirinya, awalnya saya susah mengendalikannya namun lama-lama kuda tersebut jinak. Waktu itu ibu saya berkata bahwa kuda tersebut adalah pekerjaan saya saat ini, dan ini adalah tempat yang tepat untuk saya. Sejak saat itu saya mengurungkan niat untuk pindah hingga tidak pernah ada lagi pikiran seperti itu lagi sampai sekarang,” ungkap wanita yang mempunyai hobi membaca ini.
16 tahun bergabung dengan Stella Maris banyak hal yang dapat disyukuri oleh Maria karena telah diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk dapat mengabdikan diri di tempat ini. “Saya bersyukur bisa menjadi bagian dari Stella Maris karena Stella Maris memiliki pemimpin yang sangat memikirkan kesejahteraan para guru dan karyawannya, beliau selalu mengungkapkan harapan dan mengupayakan cara untuk meningkatkan kesejahteraan kami mulai. Banyak hal, seperti ketiga anak saya, puji Tuhan, diberikan kemudahan dapat sekolah di Stella Maris yang saya pikir tidak semua sekolah Katolik dapat memberikan benefit seperti ini. Selain itu juga, Bapak, selalu mengupayakan kami untuk selalu dapat mengembangkan diri dengan mengikuti berbagai pelatihan, terutama bagi para guru untuk tetap terus belajar dan mengikuti kemajuan teknologi yang sedang berkembang.” Karena zaman semakin berkembang, generasi semakin pintar dan guru pun tidak boleh berhenti belajar untuk terus memberikan bekal bagi anak-anak bangsa. Berkat pengembangan diri yang diberikan pun, Maria mendapatkan kesempatan di bulan Agustus 2016 untuk menjadi salah satu peserta dari Instruktur Nasional yang diadakan oleh Kementrian Pendidikan Nasional dan bahkan berhasil meraih prestasi peringkat umum dari 204 peserta guru di provinsi Banten. “Ini bukan karena saya pribadi, ini semua tidak terlepas dari pengemblengan yang saya dapat selama di Stella Maris dan juga atas kehendak Tuhan. Tidak mudah memang awalnya, tapi saya selalu berpikir bahwa yang saya lakukan ini untuk membawa berkat bagi sesama,” ungkapnya dengan rasa penuh syukur.
Sebagai bagian dari keluarga besar Stella Maris, pastinya memiliki harapan dan impian terhadap masa depan sekolah yang memiliki moto Educare in Caritatem ini. “Harapan saya terhadap Stella Maris sebagai salah satu sekolah terbaik di Serpong adalah terus menjadi sekolah yang tidak melepaskan identitasnya sebagai sekolah Katolik, dalam arti meskipun Stella Maris sangat terbuka dan memiliki toleransi tinggi bagi murid maupun karyawan non-kristiani, Stella Maris tetap konsisten menanamkan nilai-nilai Katolik dalam kesehariannya di berbagai kegiatan. Begitu juga dengan lingkungan kekeluargaan dan kehangatan yang sudah terbentuk lama, saya harap itu tetap terjaga.”


