Pemanfaatan internet amat dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia karena kecakapan bidang itu merupakan salah satu modal untuk bisa berkompetensi di kancah global. Akan tetapi, dari segi etika pemakaian, jarang masyarakat Indonesianyang sudah memahami sepenuhnya, terutama cara mengatur penggunaan internet untuk anak-anak.
“Di sekolah atau di rumah, siswa didorong menggunakan internet untuk mencari informasi. Sayangnya, kebutuhan tersebut tidak didukung dengan pemahaman orang tua dan guru mengenai dampak negatif internet serta cara mengurangi resikonya,” kara pendiri Information and Communication Technology Watch, Donny B Utoyo. Donny memaparkan, orangtua belum menyadari bahwa apabila anak tidak dikendalikan dalam menggunakan internet, mereka bisa mengunggah informasi sensitif ke dunia maya, seperti daya pribadi dan foto. Hal-hal seperti ini bisa disalahgunakan oleh orang-orang dengan niat jahat.
Pada 2014 pemerintahan kita, dibawah Kementerian Komunikasi dan Informatika, bekerja sama dengan UNICEF melakukan riset yang melibatkan anak dan remaja usia 10-19 tahun (sebanyak 400 responden) yang tersebar di seluruh negeri dan mewakili wilayan perkotaan dan perdesaan dengan judul “Keamanan Penggunaan Media Digital pada Anak dan Remaja di Indonesia”, menemukan fakta bahwa setidaknya 30 juta anak dan remaja di Indonesia merupakan pengguna internet. Menurut riset yang sudah dilakukan, gaya hidup digital memberi beberapa efek negatif terhadap anak yaitu antisosial, empati tumpul, kematangan semu, emosional-tempramental, dan moralitas lemah.
BATAS WAKTU
Pakar perkembangan anak dari Yayasan Sejiwa, Diena Haryana, mengemukakan pentingnya orang tua bernegosiasi dengan anak mengenai batas waktu pemakaian internet. Idealnya adalah dua jam setiap hari, termasuk dalam mengerjakan tugas yang diberi oleh guru. Saat ini hampir semua sekolah memiliki koneksi internet sendiri dan saat ini juga sudah banyak sekolah yang siswanya membawa laptop sendiri atau gadget yang bisa dengan mudah terkoneksi dengan internet melalui perangkat wifi. Masalah yang sering ditemui dengan adanya akses internet di sekolah pada siswa adalah:
- Penggunaan internet saat jam pelajaran untuk hal yang tidak bermanfaat
- Mengakses situs media sosial secara berlebihan
- Mengakses game online
- Mengakses youtube untuk melihat video yang tidak bermanfaat
Lalu bagaimana mengkontrol penggunaan internet pada siswa agar tidak kecanduan internet di sekolah?
Membatasi pemakaian internet siswa di sekolah dapat dibantu melalui aplikasi Internet Access Controller yang sangat bermanfaat untuk mendisiplinkan penggunaan internat dengan fungsi mengendalikan, memblokir situs web, serta membatasi akses internet dan jaringan yang sudah pasti software yang bisa diandalkan. Fitur dari Internet Access Controller adalah:
- Kontrol terhadap pengguna internet, kalau di sekolah pengguna tersebut antara lain siswa, guru dan lainnya.
- Memblokir situs web, ini kita bisa manfaatkan untuk blokir situs porno, game online, dan situs berbahaya lainnya bagi siswa kita.
- Batasan waktu (timer) misalnya kita ingin mengaktifkan koneksi internet pada jam-jam tertentu dan dimatikan pada saat jam pelajaran berlangsung.
- Password untuk melindungi koneksi internet dan jaringan.
- Mengaktifkan dan menon-aktifkan internet on demand.
- Memungkinkan akses internet untuk jumlah waktu tertentu.
Disadur dari berbagai sumber


